Rabu, 02 Oktober 2013
http://www.sekolahdasar.net/2013/07/download-buku-pelajaran-sd-kurikulum-2013.html
SDN Jango didirikan pada tahun 1985, di suatu daerah yang cukup jauh dari ibu kota kabupaten Barito Selatan pada saat itu. Sekarang kabupaten Barito Selatan telah mengalami pemekaran yaitu Kabupaten Barito Timur. SDN Jango merupakan salah satu sekolah yang ada di sisi terluar dari wilayah BARTIM. Kini SDN Jango memiliki 60 siswa dan 9 tenaga guru. Masih menggunakan KTSP. Semoga ke depannya kami akan menggunakan kurikulum 2013 yang masih diujicobakan di beberapa daerah.
Senin, 30 September 2013
ANDA INGIN MENGETAHUINYA ?
Terpopuler
- Download Kumpulan Soal Tes CPNS 2013 Gratis
- Download Soal Tes TKD Latihan Ujian CPNS 2013
- Download Kumpulan Soal UTS SD Semester 1 & 2
- Daftar Website Pemda yang Membuka Tes CPNS 2013
- Download Buku Pelajaran SD Kurikulum 2013
- Download Contoh RPP Kurikulum 2013
- Soal Tes Kompetensi Dasar (TKD) CPNS 2013
- Download Buku Pegangan Guru SD Kurikulum 2013
- Download RPP SD Kurikulum 2013 Lengkap
- Cara Cek Data Pengajuan NISN Secara Online
Informasi Terbaru
- Menjadi Guru Profesional dan Teladan
- Download RPP SD Kurikulum 2013 Lengkap
- Kemendikbud Tetap Melaksanakan Ujian Nasional
- Cara Cek Data Pengajuan NISN Secara Online
- Download Silabus PAI dan Budi Pekerti Kurikulum 2013
- Download Soal Tes TKD Latihan Ujian CPNS 2013
- Soal Tes Kompetensi Dasar (TKD) CPNS 2013
-
Langkah-langkah Menyusun RPP Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 sudah mulai diterapkan pada tahun ajaran baru 2013/2014, apakah dalam membuat atau menyususn Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sama dengan kurikulum sebelumnya, yaitu RPP Berkarakter KTSP? Masih banyak guru yang belum mengetahuinya, proses pelatihan Kurikulum 2013 masih terbatas pada sekolah-sekolah yang mulai 15 Juli 2013 menerepkan Kurikulum 2013.
RPP merupakan rencana kerja yang menggambarkan prosedur, pengorganisasian, kegiatan pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang telah ditetapkan yang telah dijabarkan dalam silabus. Lingkup RPP paling banyak mencakup satu kompetensi dasar yang terdiri atas satu) indikator atau beberapa indikator untuk satu kali pertemuan atau lebih.
Seorang guru harus memperhatikan langkah-langkah penyusunan RPP. Dalam RPP Kurikulum 2013 dibagi menjadi tiga langkah besar, kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Sebelum menyusun RPP, ada beberapa hal yang harus diketahui :
- RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai kompetensi dasar.
- Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis.
- RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih.
- Guru merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan.

Contoh Format RPP Kurikulum 2013
Komponen RPP Kurikulum 2013:
- Identitas Mata Pelajaran
- Kompetensi Dasar
- Indikator Pencapaian Kompetensi
- Tujuan pembelajaran
- Materi ajar
- Alokasi waktu
- Metode pembelajaran
- Kegiatan pembelajaran
- Penilaian hasil belajar
- Sumber belajar
Menyusun Kegiatan Pembelajaran Kurikulum 2013
1. Kegiatan Pendahuluan
a.) Motivasi
- Guru memberikan gambaran manfaat mempelajari materi yang akan diajarkan
- Berkaitan dengan kajian ilmu yang akan dipelajari
- Ajuan dapat berupa penjelasan materi pokok dan uraian materi pelajaran secara garis besar
- Pembagian kelompok belajar
- Penjelasan mekanisme pelaksanaan pengalaman belajar sesua dengan rencana langkah-langkah pembelajaran
2. Kegiatan Inti
- Proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi inti dan kompetensi dasar
- Dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik
- Menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran dengan proses eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi dilaksanakan melalui aktifitas mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji dan mencipta.
3. Kegiatan Penutup
- Kegiatan guru mengarahkan peserta didik untuk membuat rangkuman/simpulan
- Pemberian tes atau tugas dan memberikan arahan tindak lanjut pembelajaran, dapat berupa kegiatan diluar kelas, dirumah atau tugas sebagai bagian remidi/pengayaan
Pada kurikulum 2013 ini, terdapat beberapa perangkat-perangkat pembelajaran telah dipersiapkan oleh Kemendikbud, seperti silabus, Komptensi Inti dan Kompetensi Dasar sedangkan penyusunan RPP masih menjadi kewajiban guru. Penerapan Kurikulum 2013 dilaksanakan secara bertahap hingga tahun 2015. Contoh RPP kurikulum 2013 bisa Anda lihat di sini.

Informasi Terhangat Hari Ini
Klik Like & Temukan Kami di Facebook
Portal Informasi Pendidikan SekolahDasar.Net didukung oleh Blogger.
Copyright © 2008-2013 All rights reserved
SDN Jango didirikan pada tahun 1985, di suatu daerah yang cukup jauh dari ibu kota kabupaten Barito Selatan pada saat itu. Sekarang kabupaten Barito Selatan telah mengalami pemekaran yaitu Kabupaten Barito Timur. SDN Jango merupakan salah satu sekolah yang ada di sisi terluar dari wilayah BARTIM. Kini SDN Jango memiliki 60 siswa dan 9 tenaga guru. Masih menggunakan KTSP. Semoga ke depannya kami akan menggunakan kurikulum 2013 yang masih diujicobakan di beberapa daerah.
MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (CTL)
MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (CTL)
A. Konsep Dasar Model Pembelajaran Kontekstual
Contextual
Teaching and Learning (CTL) adalah suatu model pembelajaran yang
menekankan kepada proses keterlibatan siswa
secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan
menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga
mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Dari konsep tersebut ada tiga hal yang harus kita pahami. Pertama, CTL
menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi,
artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara
langsung. Proses belajar dalam konteks CTL tidak mengharapkan agar siswa
hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan
sendiri materi pelajaran.
Kedua, CTL mendorong siswa agar
dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi
kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan
antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini
sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi
yangditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu
akan bermakna secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya
akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah
dilupakan.
Ketiga,
CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam
kehidupan, artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami
materi yang dipelajarinya. Akan tetapi bagaimana materi pelajaran
itudapat mewarnaiperilakunya dalamkehidupansehari-hari. Materi pelajaran
dalam kontek CTL, bukan untuk ditumpuk diotak dan kemudian dilupakan,
tetapi sebagai bekal mereka dalam mengarungi kehidupan nyata.
Sehubungan dengan itu, terdapat lima karakteristik penting dalam prosespembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL.
1) Dalam CTL, pembelajaran merupakan proses pengaktifan
pengetahuan
yangsudah ada ( activiting knowledge ), artinya apa yang akan
dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari,
dengan demikian pengetahuan yangakan diperoleh siswa adalah pengetahuan
yang utuh yang memiliki keterkaitansatu sama lain.
2)
Pembelajacan yang kontekstual adalahbelajar dalam rangka
memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge).
Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara deduktif, artinya
pembelajaran dimulai dengan mempelajarai
Secara keseluruhan, kemudian memerhatikan detailnya.
3)
Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan
yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untuk dipahami dan
diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lama
tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan
tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.
4)
Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying
knowledge), artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus
dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan
perilaku siswa.
5)
Melakukan refleksi ( reflecting knowledge) terhadap strategi
pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk
proses perbaikan dan penyempurnaan strategi.
B. Perbedaan CTL dengan Pembelajaran Konvensional
Apa perbedaan pokok
antara pembelajaran CTL dan pembelajaran konvensional seperti yang
banyak diterapkan sekolah sekarang ini? Di bawah ini dijelaskan secara
singkat perbedaan kedua model tersebut dilihat dari konteks tertentu.
1)
CTL menempatkan siswa sebagai subjek belajar, artinya siswa
berperan aktif dalam setiap proses pembelajaran dengan cara
menemukan dan 1 menggali sendiri materi pelajaran. Sedangkan, dalam
pembelajaran konvensional siswa ditempatkan sebagai objek belajar yang
berperan sebagai penerima informasi secara pasif.
2)
Dalam pembelajaran CTL, siswa belajar melalui kegiatan kelompok,
seperti kerja kelompok, berdiskusi, saling menerima dan memberi.
Sedangkan dalam pembelajaran konvensional siswa lebih banyak belajar
secara individual dengan menerima, mencatat, dan menghafal materi
pelajaran.
3)
DalamCTL, pembelajaran dikaitkan dengankehidupannyata secara riil,
sedangkan dalam pembelajaran konvensional, pembelajaran bersifat
teoretis dan abstrak.
4)
Dalam CTL, kemampuan didasarkan atas pengalaman, sedangkan dalam
pembelajaran konvensional kemampuan diperoleh melalui
latihan-latihan.
5)
Tujuan akhirdariproses pembelajaran melalui CTL adalahkepuasan
diri; sedangkan dalam pembelajaran konvensional, tujuan akhir adalah
nilai atau angka.
6)
Dalam CTL, tindakan atau perilaku dibangun atas kesadaran diri sendiri,
misalnya individutidak melakukan perilaku tertentu karena ia menyadari
bahwa perilaku itu merugikan dan tidak bermanfaat; sedangkan dalam
pembelajaran konvensional, tindakan atau perilaku individudidasarkan
oleh faktor dari luar dirinya, misalnya individu tidak melakukan sesuatu
disebabkan takut hukuman atau sekadar untuk memperoleh angka atau nilai
dari guru.
7)
Dalam CTL, pengetahuan yang dimiliki setiap individu selalu
berkembang sesuaidengan pengalamanyangdialaminya, oleh sebab itu setiap
siswa bisa terjadi perbedaan dalam memaknai hakikat
pengetahuan yang dimilikinya. Dalampembelajaran konvensional
hal ini tidak mungkin terjadi. Kebenaran yang dimiliki bersifat
absolut dan final, oleh karena pengetahuan dikonstruksi oleh orang
lain.
8)
Dalam pembelajaran CTL, siswa bertanggung jawab dalam memonitor dan
mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing; sedangkan dalam
pembelajaran konvensional guru adalah penentu jalannya proses
pembelajaran.
9)
Dalam pembelajaran CTL, pembelajaran bisa terjadi di mana saja dalam
konteks dan setting yang berbeda sesuai dengan kebutuhan; sedangkan
dalam pembelajaran konvensional pembelajaran hanya terjadi di dalam
kelas.
10)
Oleh karena tujuan yang ingin dicapai adalah seluruh aspek
perkembangan siswa, maka dalam CTL keberhasilan pembelajaran diukur
dengan berbagai cara, misalnya dengan evaluasi proses, hasil karya
siswa, penampilan, rekaman, observasi, wawancara, dan lain sebagainya;
sedangkan dalam pembelajaran konvensional keberhasilan pembelajaran
biasanya hanya diukur dari tes.
Beberapa perbedaan pokok
di atas, menggambarkan bahwa CTL memang memiliki
karakteristik tersendiri baik dilihat dari asumsi maupun proses
pelaksanaan dan pengelolaannya.
1) Asas-Asas CTL
CTLmemiliki 7 asasyang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran
dengan menggunakan model pembelajaran kontekstual. Seringkali
asas ini disebut juga komponen-komponen CTL.
a) Konstruktivisme
Pembelajaran
melalui CTL pada dasarnya mendorong agar siswa bisa mengkonstruksi
pengetahuannya melalui proses pengamatan dan pengalaman. Mengapa
demikian? Sebab, pengetahuan hanya akan fungsional manakala dibangun
oleh individu. Pengetahuan yang hanya diberikan tidak akan menjadi
pengetahuan yang bermakna. Atas dasar
asumsi yang mendasar itulah, maka penerapan asas konstruktivisme
dalam pembelajaran CTL, siswa didorong untuk mampu mengkonstruksi
pengetahuan sendiri melalui pengalaman nyata
b) Inkuiri
Asas
kedua dalam pembelajaran CTL adalah inkuiri. Artinya,
proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan peneluan melalui
proses berpikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta
hasil dari rnengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri.
Dengan demikian dalam proses perencanaan, guru bukanlah mempersiapkan
sejumlah materi yang harus dihafal,
akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya.
Apakah
inkuiri hanya bisa dilakukan untukmata pelajaran tertentu
saja?Tentutidak. Berbagai topik dalamsetiap mata pelajaran dapat
dilakukan melalui proses inkuiri. Secara umum proses inkuiri dapat
dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu :
a. Merumuskan masalah
b. Mengajukan hipotesis
c. Mengumpulkan data
d. Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan
e. Membuat kesimpulan
c) Bertanya
Belajar
pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya
dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu;
sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam
berpikir. Dalam proses pembelajaran melalui CTL, guru tidak
menyampaikan
informasi
begitu saja, akan tetapi memancing agar siswa dapat menemukan
sendiri. Karena itu peran bertanya sangat penting, sebab melalui
pertanyaan-pertanyaan gurudapat membimbing dan mengarahkan siswa untuk
menemukan setiap materi yang dipelajarinya.
Dalam suatu pembelajaran yang produktif kegiatan bertanya akan sangat berguna untuk :
a. Menggali informasi tentang kemampuan siswa dalam penguasaan materi pelajaran
b. Membangkitkan motivasi belajar siswa
c. Merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuatu
d. Memfokuskan siswa pada sesuatu yang diinginkan
e. Membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sesuatu
d) Masyarakat Belajar (Learning Community)
Dalam
kelas CTL, penerapan asas masyarakat belajar dapat dilakukan dengan
menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Siswa dibagi dalam
kelompok-kelompok yang anggotanya bersifat heterogen, baik dilihat dari
kemampuan dan kecepatan belajarnya, maupun dilihat dari bakat dan
minatnya. Biarkan dalam kelompoknya mereka saling membelajarkan;
yang memiliki kemampuan tertentu didorong untuk menularkannya pada yang
lain.
e) Pemodelan ( Modeling )
Yang
dimaksud dengan asas modeling adalah proses pembelajaran dengan
memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa.
Misalnya, guru memberikan contoh bagaimana cara mengoperasikan sebuah
alat, atau bagaimana cara melafalkan sebuah kalimat asing, dan
lainsebagainya.
Proses
modeling tidak terbatas dari guru saja, akan tetapi dapat juga guru
memanfaatkan siswa yang dianggap memiliki kemampuan. Modeling merupakan
asas yang cukup penting dalam pembelajaran CTL, sebab melalui modeling
siswa dapat terhindar dari pembelajaran yang teoretis abstrak yang dapat
memungkinkan
terjadinya verbalisme.
f) Refleksi
Refleksi adalah
proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang
dilakukan dengan cara menurutkan kembali kejadian-refleksi,
pengalaman belajar itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif siswa
yang pada akhirnya akan menjadi bagian
dari pengetahuan yang dimilikinya. Bisa terjadi melalui proses
refleksi siswa akan memperbarui pengetahuan yang telah dibentuknya,
atau menambah khazanah pengetahuannya. Dalam proses pembelajaran dengan
menggunakan CTL, setiap berakhir proses pembelajaran, guru memberikan
kesempatan kepada siswa untuk merenung atau mengingat
kembali apa yang telah dipelajarinya.
Biarkan secara bebas siswa menafsirkan pengalamannya sendiri, sehingga ia dapat menyimpulkan tentang pengalaman belajarnya.
g) Penilaian Nyata (Authentic Assesment )
Penilaiannyata
( Authentic Assesment ) adalah proses yang dilakukan guru untuk
mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang
dilakukan siswa. Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakan
siswa benar-benar belajar atau tidak; apakah pengalaman belajar
siswa memiliki pengaruh positif terhadap
perkembangan intelektual maupun mental siswa.
Penilaianyang
autentik dilakukan secara terintegrasi dengan proses pembelajaran.
Penilaian ini dilakukan secara terus menerus selama kegiatan
pembelajaran berlangsung. Oleh sebab itu, tekanannya diarahkan
kepadaproses belajar bukan kepada hasil belajar.
2) Pola dan Tahapan Pembelajaran CTL
Misalkan
pada suatu hari guru akan membelajarkan anak tentang fungsi pasar.
Kompetensi yang harus dicapai adalah kemampuan anak untuk memahami
fungsi dan jenis pasar.
Untuk mencapai kompetensi tersebut dirumuskan beberapa indikator hasil belajar :
- Siswa dapat menjelaskan pengertian pasar
- Siswa dapat menjelaskan jenis-jenis pasar
- Siswa dapat menjelaskan perbedaan karakteristik antara pasar tradisional dengan pasar non tradisional
- Siswa dapat menyimpulkan tentang fungsi pasar
- Siswa bisa membuat karangan yang ada kaitannya dengan pasar
Untuk
mencapai tujuan kompetensi di atas, dengan menggunakan CTL guru
melakukan langkah-langkah pembelajaran seperti di bawah ini :
a. Pendahuluan
1)
Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari
proses pembelajaran dan pentingnya materi pelajaran yang akan
dipelajari.
2) Guru menjelaskan prosedur pembelajaran CTL :
- Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah siswa
- Tiap kelompok ditugaskan untuk melakukan observasi, misalnya kelompok 1 dan 2 melakukan observasi ke pasar tradisional, dan kelompok 3 dan 4 melakukan observasi ke pasar swalayan
- Melalui observasi siswa ditugaskan untuk mencatatberbagai hal yang ditemukan di pasar-pasar tersebut
3) Guru melakukan tanya jawab sekitar tugas yang harus dikerjakan oleh siswa
b. Inti
Di lapangan
- Siswa melakukan observasi ke pasar sesuai dengan pembagian tugas kelompok
- Siswa mencatat hal-hal yang mereka temukan di pasar sesuai dengan alat observasi yang telah mereka tentukan sebelumnya.
Di dalam kelas
- Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompoknya masing-masing
- Siswa melaporkan hasil diskusi
- Setiap kelompokmenjawabsetiap pertanyaan yang diajukan oleh kelompokyang lain
c. Penutup
- Dengan bantuan guru, siswa menyimpulkan hasil observasi sekitar masalah pasar sesuai dengan indikator hasil belajar yang harus dicapai
- Guru menugaskan siswa untuk membuat karangan tentang pengalaman belajar mereka dengan tema “pasar”
Apa yang dapat Anda tangkap dari pembelajaran dengan menggunakan CTL?
Ya, pada CTL
untuk mendapatkan kemampuan pemahaman konsep, anak
mengalami langsung dalam kehidupan nyata di masyarakat.
Kelasbukanlahtempatuntukmencatatatau menerima
informasi dari guru, tetapi kelas digunakan untuk saling
membelajarkan. Untuk itu ada beberapa catatan dalam penerapan
CTL sebagai suatu model pembelajaran, yaitu sebagai berikut :
- CTL adalah model pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara penuh, baik fisik maupun mental,
- CTL memandang bahwa belajar bukan menghafal, akan tetapi proses berpengalaman dalam kehidupan nyata.
- Kelas dalam pembelajaran CTL bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi, akan tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan mereka di lapangan.
- Materi pelajaran ditemukan oleh siswa sendiri, bukan hasil pemberian dari orang lain.
SDN Jango didirikan pada tahun 1985, di suatu daerah yang cukup jauh dari ibu kota kabupaten Barito Selatan pada saat itu. Sekarang kabupaten Barito Selatan telah mengalami pemekaran yaitu Kabupaten Barito Timur. SDN Jango merupakan salah satu sekolah yang ada di sisi terluar dari wilayah BARTIM. Kini SDN Jango memiliki 60 siswa dan 9 tenaga guru. Masih menggunakan KTSP. Semoga ke depannya kami akan menggunakan kurikulum 2013 yang masih diujicobakan di beberapa daerah.
GURU YANG BERKUALITAS ATAU PROFESIONAL
Resep
Menjadi Guru Yang Hebat
1. Rasa cinta dan kepedulian
Bahan utama untuk menjadi guru hebat adalah cinta pada diri sendiri, cinta pada profesi dan cinta terhadap siswa. Sebagai guru hebat harus berkata: "Jika saya memberi mereka kebaikan, maka saya dapat menerima kebaikan dari mereka.” Jika siswa mengagumi guru, penghormatan segera muncul.
2. Komunikasi
Sering terjadi proses pembelajaran di kelas di mana guru hanya mengajar 5 – 10 anak. Mereka bukannya 25 atau 30 atau lebih. Sebagian besar siswa duduk bermalas-malasan dengan gelombang otak yang tidak terarah, tidak mendengarkan atau bermain sendiri. Guru hebat harus mengajar seluruh kelas. Guru harus dapat menciptakan situasi pada anak malas tetapi mau menunjukkan jarinya sehingga mengalami kesuksesan. Sehingga terjadi komunikasi yang harmonis antara guru dan siswanya. Selain dengan siswa, orang tua juga perlu diajak komunikasi.
3. Pujian dan harga diri
Guru harus optimis dengan melihat sisi baik anak, jangan sebaliknya memandang siswanya dengan pesimistis. “Anton, kau terlambat lagi!” Kalimat ini akan menimbulkan rasa malu pada anak. Lain halnya dengan ucapan, “Anton kemarin kamu datang tepat waktu dan saya senang. Mulai besok datanglah dengan tepat waktu!” Mengajar dengan menggunakan pujian-pujian secara konsisten akan menghasilkan kualitas pembelajaran yang mengagumkan.
4. Hormat dan harga diri
Guru sepenuhnya dapat menjadi model rasa hormat dan harga diri selama jam sekolah. Guru harus memulai dari diri sendiri, dengan menjadi model perilaku menghormati ketika mereka berhubungan dengan rekan kerja dan siswa.
5. Lingkungan ruang kelas
Ciptakan komunitas hangat dan dapat dipercaya bagi para siswa. Supaya terjadi komunikasi yang jelas dan konsisten pastikan bahwa kelas adalah milik setiap orang. Ciptakan ruang kelas merupakan lingkungan dengan banyak pernak-pernik, misalnya: Visi dan Misi, Tata tertib kelas, pengumuman, contoh karya siswa, dan sebagainya. Pengaturan tempat duduk sangat berpengarauh terhadap berlangsungnya proses pembelajaran dan hasil belajar.
6. Manajemen kelas
Guru harus menentukan pedoman, aturan, dan prosedur yang jelas sehingga tercipta interaksi setiap orang di kelas dengan efektif.
7. Disiplin, bersikaplah adil dan konsisten
Tangani perilaku yang tak diharapkan. Buat kontak mata langsung dengan siswa sehingga mereka menganggap ada keseriusan. Gunakan kedekatan untuk menempatkan fisik dengan siswa sehingga mereka memahami perilakunya tidak pantas. Tangani disiplin dengan tenang, lembut, dan sadar. Lakukan dulu perilaku yang diharapkan untuk ditiru siswa. Kaji ulang dengan siswa pada waktu terjadi pelanggaran. Senantiasa konsisten dengan aturan yang dibuat.
8. Menyusun buku catatan
Semua siswa untuk biasakan memiliki buku catatan yang berisi tentang hasil kerja siswa. Dengan ini diharapkan para siswa belajar bertanggung jawab atas tugas mereka sendiri.
9. Ketrampilan kehidupan nyata ke dalam kurikulum
Sangat penting siswa memahami bahwa keterampilan yang mereka pelajari di sekolah harus bisa diterapkan ke keterampilan nyata yang mereka perlukan agar menjadi orang dewasa yang sukses, sehat, dan makmur.
10. Kolaborasi
Dalam pembelajaran perlu adanya kolaborasi antar penyelenggara sekolah, baik antar guru dengan guru, antar guru dengan karyawan maupun guru dengan orang tua siswa. Perlu dibentuk tim untuk mengadakan pertemuan mingguan dan bulanan, perencanaan pembelajaran, maupun pengamatan ke kelas siswa. Guru hebat memahami pentingnya kerja kolaborasi dengan guru lain.
11. Penyajian
Setelah semua bahan dipersiapkan, guru siap untuk menyajikan ke dalam meja makan pembelajaran. Kelas yang sudah dipersiapkan adalah milik Anda. Anda memiliki kebebasan pribadi yang besar untuk memberikan pengaruh positif pada kehidupan siswa. Mengajar merupakan profesi yang bersahaja, terhormat, dan menantang yang mempengaruhi siswa, orang tua mereka, dan masyarakat mereka.
1. Rasa cinta dan kepedulian
Bahan utama untuk menjadi guru hebat adalah cinta pada diri sendiri, cinta pada profesi dan cinta terhadap siswa. Sebagai guru hebat harus berkata: "Jika saya memberi mereka kebaikan, maka saya dapat menerima kebaikan dari mereka.” Jika siswa mengagumi guru, penghormatan segera muncul.
2. Komunikasi
Sering terjadi proses pembelajaran di kelas di mana guru hanya mengajar 5 – 10 anak. Mereka bukannya 25 atau 30 atau lebih. Sebagian besar siswa duduk bermalas-malasan dengan gelombang otak yang tidak terarah, tidak mendengarkan atau bermain sendiri. Guru hebat harus mengajar seluruh kelas. Guru harus dapat menciptakan situasi pada anak malas tetapi mau menunjukkan jarinya sehingga mengalami kesuksesan. Sehingga terjadi komunikasi yang harmonis antara guru dan siswanya. Selain dengan siswa, orang tua juga perlu diajak komunikasi.
3. Pujian dan harga diri
Guru harus optimis dengan melihat sisi baik anak, jangan sebaliknya memandang siswanya dengan pesimistis. “Anton, kau terlambat lagi!” Kalimat ini akan menimbulkan rasa malu pada anak. Lain halnya dengan ucapan, “Anton kemarin kamu datang tepat waktu dan saya senang. Mulai besok datanglah dengan tepat waktu!” Mengajar dengan menggunakan pujian-pujian secara konsisten akan menghasilkan kualitas pembelajaran yang mengagumkan.
4. Hormat dan harga diri
Guru sepenuhnya dapat menjadi model rasa hormat dan harga diri selama jam sekolah. Guru harus memulai dari diri sendiri, dengan menjadi model perilaku menghormati ketika mereka berhubungan dengan rekan kerja dan siswa.
5. Lingkungan ruang kelas
Ciptakan komunitas hangat dan dapat dipercaya bagi para siswa. Supaya terjadi komunikasi yang jelas dan konsisten pastikan bahwa kelas adalah milik setiap orang. Ciptakan ruang kelas merupakan lingkungan dengan banyak pernak-pernik, misalnya: Visi dan Misi, Tata tertib kelas, pengumuman, contoh karya siswa, dan sebagainya. Pengaturan tempat duduk sangat berpengarauh terhadap berlangsungnya proses pembelajaran dan hasil belajar.
6. Manajemen kelas
Guru harus menentukan pedoman, aturan, dan prosedur yang jelas sehingga tercipta interaksi setiap orang di kelas dengan efektif.
7. Disiplin, bersikaplah adil dan konsisten
Tangani perilaku yang tak diharapkan. Buat kontak mata langsung dengan siswa sehingga mereka menganggap ada keseriusan. Gunakan kedekatan untuk menempatkan fisik dengan siswa sehingga mereka memahami perilakunya tidak pantas. Tangani disiplin dengan tenang, lembut, dan sadar. Lakukan dulu perilaku yang diharapkan untuk ditiru siswa. Kaji ulang dengan siswa pada waktu terjadi pelanggaran. Senantiasa konsisten dengan aturan yang dibuat.
8. Menyusun buku catatan
Semua siswa untuk biasakan memiliki buku catatan yang berisi tentang hasil kerja siswa. Dengan ini diharapkan para siswa belajar bertanggung jawab atas tugas mereka sendiri.
9. Ketrampilan kehidupan nyata ke dalam kurikulum
Sangat penting siswa memahami bahwa keterampilan yang mereka pelajari di sekolah harus bisa diterapkan ke keterampilan nyata yang mereka perlukan agar menjadi orang dewasa yang sukses, sehat, dan makmur.
10. Kolaborasi
Dalam pembelajaran perlu adanya kolaborasi antar penyelenggara sekolah, baik antar guru dengan guru, antar guru dengan karyawan maupun guru dengan orang tua siswa. Perlu dibentuk tim untuk mengadakan pertemuan mingguan dan bulanan, perencanaan pembelajaran, maupun pengamatan ke kelas siswa. Guru hebat memahami pentingnya kerja kolaborasi dengan guru lain.
11. Penyajian
Setelah semua bahan dipersiapkan, guru siap untuk menyajikan ke dalam meja makan pembelajaran. Kelas yang sudah dipersiapkan adalah milik Anda. Anda memiliki kebebasan pribadi yang besar untuk memberikan pengaruh positif pada kehidupan siswa. Mengajar merupakan profesi yang bersahaja, terhormat, dan menantang yang mempengaruhi siswa, orang tua mereka, dan masyarakat mereka.
SDN Jango didirikan pada tahun 1985, di suatu daerah yang cukup jauh dari ibu kota kabupaten Barito Selatan pada saat itu. Sekarang kabupaten Barito Selatan telah mengalami pemekaran yaitu Kabupaten Barito Timur. SDN Jango merupakan salah satu sekolah yang ada di sisi terluar dari wilayah BARTIM. Kini SDN Jango memiliki 60 siswa dan 9 tenaga guru. Masih menggunakan KTSP. Semoga ke depannya kami akan menggunakan kurikulum 2013 yang masih diujicobakan di beberapa daerah.
Selasa, 24 September 2013
PROFIL KKKS MANUNGGAL
Kelompok Kerja Kepala Sekolah Bermutu MANUNGGAL merupakan wadah para kepala sekolah untuk mengembangkan dirinya . Melalui forum ini mereka bisa belajar dan mengembangkan kemampuannya yang sudah ada. Bagi kepala sekolah pemula/masih baru bisa belajar banyak hal dari siniornya yang ada di kelompok kerja. KKKS Manunggal pada saat ini memiliki 12 anggota yang tersebar di seluruh wilayah Kecamatan Patangkep Tutui. Ada beberapa anggota yang harus menempuh jarak beberapa km. Kadang sampai memerlukan waktu sekitar satu setengah jam untuk sampai ke tempat kegiatan yang dipusatkan di SDN 1 Bentot. Namun demikian tidak menyurutkan semangat para kepala sekolah untuk senantiasa meningkatkan profesionalismenya sebagai abdi negara yang mengemban tugas berat di lapangan. Hujan panas tidak menjadi penghalang bagi mereka. Tekatnya hanya satu, Keberhasilan dunia pendidikan di daerahnya, yang merupakan bagian dari dunia pendidikan nasional. Semangatlah saudaraku... Pengabdian suci menghiasi predikat kepahlawananmu .... Semoga Tuhan Selalu Bersama Kita... Amin.
SDN Jango didirikan pada tahun 1985, di suatu daerah yang cukup jauh dari ibu kota kabupaten Barito Selatan pada saat itu. Sekarang kabupaten Barito Selatan telah mengalami pemekaran yaitu Kabupaten Barito Timur. SDN Jango merupakan salah satu sekolah yang ada di sisi terluar dari wilayah BARTIM. Kini SDN Jango memiliki 60 siswa dan 9 tenaga guru. Masih menggunakan KTSP. Semoga ke depannya kami akan menggunakan kurikulum 2013 yang masih diujicobakan di beberapa daerah.
Selasa, 17 September 2013
USAHA KESEHATAN SEKOLAH
Secara berkala petugas dari Puskesmas Kecamatan Patangkep Tutui mengadaan pelayanan kesehatan ke sekolah-sekolah yang ada di wilayah kerjanya. Termasuk SDN Jango yang menjadi objek wilayah kerjanya. Dengan semboyan di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Usaha Kesehatan Sekolah di SDN Jango merupakan salah satu program prioritas. Kami selalu membiasakan sadar kebersihan lingkungan dan diri sendiri (kesehatan badan dan jiwa). Siswa dibiasakan untuk membuang sampah pada tempatnya. Memelihara kesehatan dirinya, termasuk memelihara kebersihan dan kesehatan gigi seperti pada gambar. Tampak pada gambar salah satu petugas kesehatan sedang memeriksa kesehatan gigi siswa. Selain itu ada pelatihan dokter kecil yang juga disponsori oleh Puskesmas setempat. Dalam program ini siswa dilatih untuk memberikan pertolongan pada permasalahan kesehatan seperti layaknya dokter sungguhan, namun dalam batas yang masih sangat sederhana. Dengan semboyan "JAGALAH SEHAT SEBELUM SAKITMU".
SDN Jango didirikan pada tahun 1985, di suatu daerah yang cukup jauh dari ibu kota kabupaten Barito Selatan pada saat itu. Sekarang kabupaten Barito Selatan telah mengalami pemekaran yaitu Kabupaten Barito Timur. SDN Jango merupakan salah satu sekolah yang ada di sisi terluar dari wilayah BARTIM. Kini SDN Jango memiliki 60 siswa dan 9 tenaga guru. Masih menggunakan KTSP. Semoga ke depannya kami akan menggunakan kurikulum 2013 yang masih diujicobakan di beberapa daerah.
PENGEMBANGAN DIRI GURU-GURU SDN JANGO
Dalam rangka memenuhi tuntutan perkembangan dunia pendidikan di Indonesia sudah selayaknya apabila guru-guru harus mengembangkan dirinya untuk lebih profesional di bidangnya. Salah satu cara pengembangan diri bagi guru-guru adalah pada kegiatan KKG. Secara berkala guru-guru SDN Jango mengikuti secara aktif kegiatan KKG Patih Bantar yang merupakan salah satu KKG Bermutu yang menerima dana Blok Grand dari pemerintah pusat. Banyak hal yang bisa didapat dari kegiatan ini. Dari mulai mengenal beberapa model pembelajaran dan penerapannya sampai peningkatan kemampuan di bidang ICT. Bagi guru yang kurang mampu merancang pembelajaran, sudah siap pemandu dari KKG ini utnuk membantu, sehingga masalah-masalah yang dihadapi guru-guru dalam hal pembelajaran dapat dibahan dan diberikan solusinya di KKG. Bagi guru yang kurang mampu dalam menulis KTI, pemandunyapun sudah siap memberikan arahan dan bimbingannya. Mau maju Ikutlah KKG di tempat anda masing.msing. Salam Pendidikan. Pengabdian dan Ketulusan semboyan kita.
SDN Jango didirikan pada tahun 1985, di suatu daerah yang cukup jauh dari ibu kota kabupaten Barito Selatan pada saat itu. Sekarang kabupaten Barito Selatan telah mengalami pemekaran yaitu Kabupaten Barito Timur. SDN Jango merupakan salah satu sekolah yang ada di sisi terluar dari wilayah BARTIM. Kini SDN Jango memiliki 60 siswa dan 9 tenaga guru. Masih menggunakan KTSP. Semoga ke depannya kami akan menggunakan kurikulum 2013 yang masih diujicobakan di beberapa daerah.
Langganan:
Postingan (Atom)

